Cerita, Pengalaman Membuat Paspor

Jakarta/dn.com – Pengalaman membuat paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan ternyata memberikan kesan tersendiri. Berangkat dari Darunnajah pada Senin, 2 Mei 2011 pukul 07.30 wib. Kami melewati jalan yang memakan waktu lebih singkat melewati Pondok Pinang. Dalam perjalanan tiba-tiba ban belakang motor kami kempes. singkat cerita diganti ban dalam dengan yang baru dengan harga yang cukup mahal karena bengkel itu pun mengambil untung yang berkali lipat.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke tempat yang dituju. Sesampainya disana, mengambil nomor antrian 295 dan teman saya 296 kemudian mengisi formulir yang disediakan di Koperasi Imigrasi. Sambil mengisi formulir tersebut, kami mempersiapkan file-file yang dibutuhkan. Hal yang tidak diinginkan ternyata terjadi. Tepat pukul 10.00 wib saya harus pulang karena salah satu persyaratan atau file yang saya bawa kurang lengkap karena tidak disertai file aslinya dan kebetulan file aslinya terdapat di rumah.

Berangkatlah saya ke rumah yang terletak di Tangerang Utara. dalam perjalanan yang  terburu-buru, lagi-lagi cobaan menerpa, kali ini terjadi lagi pada ban belakang yang bocor kembali. Singkat cerita, saya ganti ban luar dengan harga yang lebih murah dibandingkan ban dalam yang tadi saya beli pertama kali.

Sesampainya dirumah, makan, sholat dan mengambil file asli yang tertinggal kemudian berangkat lagi menuju kantor Imigrasi pukul 13.00 wib. Cobaan lagi-lagi datang, belum sampai ke tujuan ternyata ban belakang motor yang saya pakai lagi-lagi bocor. Entah kesalahan apa yang telah saya perbuat sehingga saya harus mengunjungi bengkel sebanyak 3 kali dalam sehari. Akhirnya saya mengganti lagi ban belakang yang pagi tadi baru saya beli. Ternyata ban belakang yang tadi pagi dibeli PALSU.

Dengan kondisi terburu-buru mengejar nomor antrian 295, motor melaju kencang seperti Ducati-nya Rossi, akhirnya kurang dari 1 jam saya sampai ke kantor Imigrasi Jakarta Selatan yang terletak di dekat Lebak Bulus. Saya menghampiri teman yang saya tinggal di Imigrasi dan melihat nomor antrian 295. Ternyata nomor tersebut sudah dilewati pukul 13.45 wib. Teman saya pun mengambilkan nomor antrian yang baru 333.  Mesin antrian yang disediakan di Kantor Imigrasi dibatasi hanya sampai pukul 11.00 wib sehingga saya harus meninggalkan teman di sana guna mengambilkan saya nomor antrian yang baru.

Kurang dari 1 Jam saya duduk di kantor Imigrasi, nomor antrian 333 akhirnya dipanggil juga. Dengan perasaan senang saya menghampiri loket III dan memberikan semua persyaratan untuk pembuatan Paspor yang baru. Selesai di cek dan saya diberi kwitansi yang isinya harus kembali lagi 2 hari setelah ini untuk mengikuti prosedur pembayaran dan foto, sidik jari, serta wawancara. Tepat pukul 15.00 kami berdua kembali lagi ke Darunnajah.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>