Oleh : dr. H. Izzuddin Fathoni *
Selalu saja, kulihat dia di musholla kampus, saat adzan dhuhur berkumandang. Meyakinkan diri sholat sunnah 2 rakaat dibelakang sajadah imam, dan bila iqamah berkumandang, dia kan maju kedepan, menjadi imam. Diletakkannya barang dagangannya di dekat dinding. Aku tersenyum. Penampilan sederhana, berbaju lusuh, mengimami kami para dokter, para calon dokter, dan beberapa karyawan pns lain sekitar kampus. Indah.
Sungguh keindahan tiada tara, betapa status sosial, ekonomi, pendidikan, bukanlah penghalang seseorang menjadi pemimpin sholat. Tidak pernah ada rasa iri, dengki, menginginkan posisi menjadi imam di depan. Kalau toh ada sedikit rasa ganjalan, itu lebih pada ketidak puasan akan bacaan imam atau gerakan ‘fiqh’ sholat nya. Dan itu manusiawi serta dimaklumi.Tidak lebih dari itu.
Lain waktu, bisa jadi imam kita itu seorang gelandangan, seorang remaja, atau seorang tua renta. Sholat mengajarkan kita memandang manusia setara, tua muda, miskin kaya, darah biru darah merah, sama, equal. Yang sinis akan mempertanyakan, mengapa perempuan tidak bisa mengimami laki-laki ? Islam itu tidak responsif gender ! Kita harusnya tetap tersenyum. Senyum sedekah kita dan melumerkan kemarahan. Segala sesuatu diletakkan menurut aturannya. Disamping beberapa hal yang bisa dilakukan bersama, dalam Islam ada pembagian peran dan tugas, hak dan kewajiban, antara jenis kelamin laki laki dan perempuan. Para lelaki tidak pernah merasakan libur sholat, sebagaimana perempuan. Para perempuan tidak diberi kewajiban mengikuti sholat jumat, sebagaimana diwajibkan pada laki-laki. Tanyakan pada kaum muslimah, apakah mereka merasa terpinggirkan dalam Islam ?
Akan halnya menjadi imam sholat, seorang wanita bisa menjadi imam para wanita lainnya. Atau dalam keadaan tertentu bisa menjadi imam suaminya yang muallaf dengan bacaan sholat yang belum sempurna. Anda tidak akan pernah mengerti sholat sebelum anda menjalaninya.
Sholat itu mencengangkan. Hadiah dari Allah SWT pada manusia. Tiada hal jelek apapun sebagai akibat dari menjalankannya. Makanan bagi otot, sendi, ligament, fascia, tulang, jantung, paru, adalah bergerak. Dan sholat menyediakan hal itu. Begitu juga aliran kelenjar limfe, penghasil sistem pertahanan tubuh, akan optimal bersama gerakan tubuh. Nikmat nya telinga adalah mendengar suara merdu, dan sholat berjamaah dengan lantunan merdu alquran dari sang imam, menyediakan hal itu. Suara itu akan mengaktifkan sistem limbik, sistem emosi-pembelajaran kompleks-bernalar-fungsi kejiwaan, di otak kita. Itulah sebabnya mengapa banyak orang menyukai lagu dan musik.
Gerakan sujud yang lama, saya yakin, akan memberi pengaruh aliran darah ke otak, terutama bagian amigdala. Suatu struktur yang bersama hipotalamus, hipokampus, septum, area paraolfaktoria, epitalamus, nuklei anterior talamus, dan bagian ganglia basalis, membentuk sistem limbik tadi. Ajaibnya, amigdala hanya kan memperoleh vaskularisasi maksimal saat gerakan sujud dilakukan. Perlu juga saya kira, mempertanyakan mengapa penyakit al zheimer bisa terjadi, dan lihatlah prevalensinya antara negara dengan mayoritas penduduknya sholat dengan yang tidak pernah sholat. Gerakan sujud, juga sudah lama dianjurkan oleh para dokter untuk memperbaiki aliran darah menuju janin, bagi ibu yang sedang hamil.
Masih banyak lagi, manfaat sholat yang rasanya tidak pantas saya sampaikan disini. Mengingat sudah banyak referensi tentang hal itu. Yang terpenting adalah, marilah sholat, marilah menuju kesuksesan, Allahu Akbar !!
——————
* Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Angkatan 1993), Kontributor ISCO (Islamic Studies Center Online).
mail : dr.izzuddinfathoni@ymail.com
sumber : ISCO (Islamic Studies Center Online)
