Jakarta/dn.com – Setelah lebih dari 2 pekan kerusuhan di Mesir tak kunjung reda. malah semakin memperumit suasana menjadi lebih keruh, sehingga membuat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) harus memutar otak sehubungan masih adanya Mahasiswa Indonesia yang masih ada di Mesir.
Dengan keadaan seperti ini, akhirnya Presiden Mesir yang telah menjabat selama 30 tahun turun dari masa jabatannya. hal ini memungkinkan keadaan Mesir yang mereda setelah kerusuhan yang telah makan banyak korban jiwa. seminggu sebelum Presiden Mesir Husni Mubarak turun dari jabatannya, pesawat garuda dari Jakarta menuju Kairo Mesir telah diterbangkan. gunanya untuk mengevakuasi lanjutan warga negara Indonesia yang masih berada di Mesir yang notabenya adalah mahasiswa termasuk juga alumni Darunnajah yang menimba ilmu di kota seribu satu malam tersebut, diantaranya : M. Zul Ikrom (angkatan 31), Arini (angkatan 30), Risma (angkatan 30), Asep Awaluddin (dn 2), Miswadi (angkatan 27), Sholeh (angkatan 32), Fatih Zul Fahmi (angkatan 32), Badrut (Tamam angkatan 32), Darul Ihsan (angkatan 32), Irna (dn 2), M. Iqbal Haqqi Tamam (angkatan 29), Atsari Noor V. (angkatan 29). adapun alumni Darunnajah yang belum kembali ke Indonesia antara lain : Mahmud Mauquinta Hornai (ketua IKPDN, angkatan 29), M Yaqub, Azis, Sifrul Akhyar (angktan 30), Baits Al Abror (angkatan 31), Muhammad Fajrin (angkatan 31).
Pesawat garuda yang diterbangkan merupakan kloter ke 6 yang sebelumnya telah mengangkut ratusan hingga ribuan Warga negara Indonesia.kloter ke 6 ini mengangkut lebih dari 400 warga negara Indonesia. adapun proses evakuasi dilakukan dengan cara masing-masing individu mendaftarkan namanya terlebih dahulu ke pengurus konsulate masing-masing, setelah itu nama-nama yang telah terdaftar di konsulate masing-masing akan diserahkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), proses selanjutnya hanya tinggal menunggu giliran untuk diangkut pesawat. menurut Zul Ikrom bahwa yang lebih diutamakan untuk diangkut pesawat adalah anak-anak, mahasiswi dan ibu-ibu hamil maupun tidak.